ISD BAB IV: PEMUDA DAN SOSIALISASI

Minggu, 09 November 2014

Nama          : Winda Setianingsih
NPM           : 2C314267
Kelas          : 1TB03

BAB IV
Pemuda dan Sosialisasi

A.          Internalisasi Belajar dan Spesialisasi
1.             Pengertian  Pemuda
Pengertian pemuda ialah manusia-manusia generasi muda atau remaja yang masih sangat membutuhkan pembinaan serta pengembangan kearah yang lebih baik lagi, agar dapat melanjutkan dan mengisi pembangunan yang sekarang ini telah berlangsung. Pemuda-pemuda di Indonesia dewasa ini sangat beraneka ragam, terutama bila dikaitkan dengan kesempatan pendidikan. Keanekaragaman tersebut pada dasarnya tidak mengakibatkan suatu perbedaan dalam pembinaan dan pengembangan para generasi muda.
2.             Pengertian Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses kehidupan yang dialami oleh para pemuda Indonesia setiap hari baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat membawa pengaruh yang besar pula dalam membina sikap untuk dapat hidup di masyarakat. Proses sosialisasi ini berlangsung sejak anak ada di dunia dan akan berproses hingga dewasa.
3.             Penjelasan Inti Internalisasi Belajar dan Sosialisasi
Sosialisasi dapat diartikan sebagai suatu proses seumur hidup untuk mengetahui bagaimana seseorang mempelajari kebiasaan sehari-hari yang meliputi cara-cara hidup, nilai-nilai, dan norma-norma sosial yang terdapat didalam masyarakat agar dapat diterima oleh masyarakat yang ada di lingkungannya. Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). Menurut Goffman, kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkukung dan diatur secara formal.
·        Sosialisasi Primer
            Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer berlangsung ketika anak berada di usia 1-5 tahun atau saat anak belum memasuki jenjang sekolah. Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarganya. Secara bertahap dia mulaidapat membedakan dirinya sendiri dengan orang lain yang ada sekitar keluarganya.
Pada tahap ini, peran orang-orang terdekat dengan anak menjadi sangat penting, dikarenakan seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas di dalamnya. Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.

·        Sosialisasi Sekunder
            Sosialisasi sekunder ialah proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Salah satu bentuk sosialisasi sekunder adalah resosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami ‘pencabutan’ identitas diri yang lama.

4.             Proses Sosialisasi
·                Tahap Persiapan (Preparatory Stage)
Tahap ini dimulai sejak manusia dilahirkan, ketika seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak sudah mulai meniru walaupun tidak sempurna.
Contoh: Kata "makan" yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan "mam". Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
·                Tahap Meniru (Play Stage)
Tahap ini seorang anak semakin sempurna menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini, seorang anak mulai menyadari tentang nama sendiri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai mengetahui tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, di tahap ini sudah terbentuk kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other).
·                Tahap Siap Bertindak (Game Stage)
Pada tahap ini sudah berkurang dalam menirukan sesuatu dan digantikan dengan  peran sendiri secara langsung dengan penuh kesadaran. Pemahaman menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Seseorang mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks sehingga individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami serta  mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.
·                Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Stage/Generalized other)
Pada tahap ini seseorang sudah dianggap dewasa. Seseorang yang dianggap dewasa telah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara lebih luas lagi. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.
5.              Peranan Sosial Mahasiswa dan Pemuda di Masyarakat
Mahasiswa ialah sekelompok pelajar dengan golongan terdidik, karena mampu untuk mengenyam di pendidikan tinggi disaat sebagian yang lain dalam usia yang sama masih bergelut dengan kemiskinan dan keterbatasan biaya dalam mengakses pendidikan, terutama pendidikan tinggi.
Mahasiswa merupakan kaum intelektual yang mempunyai basis keilmuan yang kuat sesuai dengan jurusan yang diambil masing-masing mahasiswa tersebut yang berarti kemampuan akademik mahasiswa dapat diandalkan sebagai salah satu asset negara ini. Tetapi, mahasiswa juga merupakan sebuah entitas sosial yang selalu berinteraksi dengan masyarakat dari segala jenis lapisan, sehingga dalam hal ini mahasiswa dituntut untuk memainkan peran aktif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Peranan Pemuda dalam Masyarakat
Peran pemuda sangat dibutuhkan masyarakat demi kemajuan bersama. Pemuda adalah tulang punggung masyarakat. Generasi tua memiliki keterbatasan untuk memajukan bangsa. Peran pemuda sangat ditentukan dalam hal ini. Dengan semangat menyala-nyala dan tekad yang membaja serta visi dan kemauan untuk menerima perubahan yang dinamis pemuda menjadi motor bagi pembangunan masyarakat. Sejarah membuktikan, peranan pemuda sangat membawa perubahan. Sumpah Pemuda, Proklamasi, Pemberantasan PKI, lahirnya orde baru, bahkan peristiwa turunnya diktator Soeharto dari singgasana kepresidenan seluruhnya dimotori oleh kaum muda. Kaum muda pula yang selalu memberikan umpan balik yang kritis terhadap pongahnya kekuasaan.

B.    Pemuda dan Identitas
1.     Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda
Generasi muda adalah generasi penerus bangsa serta sumber daya insani bagi pembangunan nasional. Generasi muda diharapkan dapat memikul tugas dan tanggung  jawab untuk kelestarian kehidupan bangsa dan negara. Generasi muda perlu mendapatkan perhatian khusus dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik jasmani dan rohani maupun sosialnya.

       Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan pola dasar pembinaan dan pembangunan generasi muda. Tujuannya agar semua pihak yang turut serta dan berkepentingan dalam penanganannya benar-benar menggunakannya sebagai pedoman sehingga pelaksanaannya dapat terarah, menyeluruh dan terpadu serta dapat mencapai sasaran dan tujuan yang dimaksud.

        Pola dasar pembinaan dan pengembangan generasi muda disusun berlandaskan:
A. Landasan idil (Pancasila)
B. Landasan Konstitusional (UUD 1945)
C. Landasan Strategi (Garis-garis besar haluan negara)
D. Landasan Histories (Sumpah Pemuda dan Proklamasi)
E. Landasan Normatif (Tata Nilai diTengah Masyarakat)

        Motivasi asas pembinaan dan pengembangan generasi muda bertumpu pada strategi pencapaian tujuan nasional, seperti disebutkan dalam pembukaan UUD 1945 alinea keempat.
        Atas dasar kenyataan ini, penataan kehidupan pemuda sangat diperlukan sehingga mereka mampu memainkan peranan yang penting dalam masa depan sekalipun disadari bahwa masa depan tersebut tidak berdiri sendiri. Masa depan adalah lanjutan masa sekarang, dan masa sekarang adalah hasil masa lampau. Dalam hal ini, pembinaan dan pengembangan generasi muda haruslah menanamkan motivasi kepekaan terhadap masa mendatang sebagai bagian mutlak masa kini. Kepekaan terhadap masa yang akan datang  membutuhkan pula situasi-situasi lingkungan untuk merelevansikan partisipanya dalam setiap kegiatan bangsa dan negara. Untuk itu, kualitas kesejahteraan yang membawa nilai-nilai dasar bangsa merupakan faktor penentu yang mewarnai pembinaan generasi muda dan bangsa dalam memasuki masa datang.

2.       Pengertian Pokok Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda
        Pembinaan dan pengembangan generasi muda menyangkut dua pengertian pokok, diantaranya:

A.      Generasi muda sebagai objek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang telah memiliki bekal dan kemampuan serta landasan untuk mandiri dan keterlibatannya pun secara fungsional bersama potensi lainnya guna menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh bangsa ini.

B.      Generasi muda sebagai objek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan kearah pertumbuhan potensi dan kemampuan ketingkat yang optimal dan belum dapat bersikap mandiri yang melibatkan secarafungsional.

        Tujuan pembangunan ini akan sangat sulit sekali tercapai jika generasi muda tidak ikut serta dalam pembangunan tersebut. Hal ini bukan saja karena pemuda merupakan lapisan masyarakat yang cukup besar, tetapi tanpa kegairahan dan kreativitas mereka, pembangunan jangka panjang dapat kehilangan keseimbangan. Sangat sulit mewujudkan pemimpin masa mendatang yang dapat memimpin bangsanya sendiri jika generasi muda saat kini terpisah dari persoalan masyarakat.
3.       Masalah-masalah Generasi Muda
Berbagai permasalahan generasi muda yang muncul pada saat ini antara lain:
·         Menurunnya jiwa idealisme, patriotisme, dan nasionalisme di kalangan masyarakat termasuk generasi muda.
·         Kekurangpastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya.
·         Belum seimbangnya antara jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia, baik yang formal maupun non formal. Tingginya jumlah putus sekolah yang diakibatkan oleh berbagai sebab yang bukan hanya merugikan generasi muda sendiri, tetapi juga merugikan seluruh bangsa.
·         Kurangnya lapangan kerja / kesempatan kerja serta tingginya tingkat pengangguran /setengah pengangguran di kalangan generasi muda dan mengakibatkan berkurangnya produktivitas nasional dan memperlambat kecepatan laju perkembangan pembangunan nasional serta dapat menimbulkan berbagai problem sosial lainnya.
·         Kurangnya gizi yang dapat menyebabkan hambatan bagi perkembangan kecerdasan dan pertumbuhan badan di kalangan generasi muda, hal tersebut disebabkan oleh rendahnya daya beli dan kurangnya perhatian tentang gizi dan menu makanan seimbang di kalangan masyarakat yang berpenghasilan rendah.
·         Masih banyaknya perkawinan di bawah umur, terutama di kalangan masyarakat daerah pedesaan.
·         Pergaulan bebas yang membahayakan sendi-sendi perkawinan dan kehidupan keluarga.
·         Meningkatnya kenakalan remaja termasuk penyalahgunaan narkotika.
·         Belum adanya peraturan perundangan yang menyangkut generasi muda.

Dan ada juga masalah lain yaitu:
   Kebutuhan Akan Figur Teladan
Nilai-nilai luhur yang berlangsung dari keteladanan orang tua mereka jauh lebih terkesan di kalangan remaja daripada hanya sekedar nasihat-nasihat bagus yang tinggal hanya kata-kata indah.
   Sikap Apatis
Sikap apatis merupakan kecenderungan untuk menolak sesuatu dan pada saat yang bersamaan tidak mau melibatkan diri di dalamnya. Sikap apatis ini terwujud di dalam ketidakacuhannya akan apa yang terjadi di masyarakatnya.
   Kecemasan dan Kurangnya Harga Diri
Dikalangan remaja, kata stress atau frustasi semakin umum digunakan. Banyak generasi muda yang mencoba mengatasi rasa cemasnya dalam bentuk “pelarian” (memburu kenikmatan lewat minuman keras, obat penenang, seks dan lainnya).
   Ketidakmampuan untuk Terlibat
Para remaja sulit melibatkan diri secara emosional maupun efektif dalam hubungan pribadi dan dalam kehidupan di masyarakat. Hal itu dikarenakan Kecenderungan untuk mengintelektualkan segala sesuatu dan pola pikir ekonomis. Persahabatan dinilai dengan untung rugi atau bahkan dengan uang.
   Perasaan Tidak Berdaya
Teknologi semakin menguasai gaya hidup dan pola berpikir masyarakat modern yang membuat munculnya perassaan tidak berdaya. Teknologi mau tidak mau menciptakan masyarakat teknokratis yang memaksa kita untuk pertama-tama berpikir tentang keselamatan diri kita di tengah-tengah  masyarakat. Lebih jauh remaja mencari “jalan pintas”, misalnya menggunakan segala cara untuk tidak belajar tetapi mendapat nilai baik atau ijasah.
   Pemujaan Akan Pengalaman
Sebagian besar tindakan-tindakan negatif anak muda dengan minumam keras, obat-obatan dan seks pada mulanya berawal dari hanya mencoba-coba. Lingkungan pergaulan anak muda dewasa ini memberikan pandangan yang keliru tentang pengalaman.
4.       Potensi-potensi Generasi Muda
Potensi-potensi yang terdapat pada generasi muda perlu dikembangkan adalah:
• Idealisme dan daya kritis
• Dinamika dan kreativitas
• Keberanian Mengambil Resiko
• Opimis dan kegairahan semangat
• Sifat kemandirian, disiplin, peduli, dan bertanggung jawab
• Keanekaragaman dalam persatuan dan kesatuan
• Patriotisme dan Nasionalisme
• Kemampuan menguasai ilmu dan teknologi
1.             Tujuan Pokok Sosialisasi
Sosialisasi mempunyai tujuan sebagai berikut : 
a.       Memberikan keterampilan kepada seseorang untuk dapat hidup bermasyarakat.
b.      Mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara efektif.
c.       Membantu mengendalikan fungsi-fungsi organik yang dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.
d.      Membiasakan diri berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan kepercayaan pokok yang ada di masyarakat.

C.      Perguruan dan Pendidikan
1.       Cara Mengembangkan Potensi Generasi Muda
Peranan penting yang dimiliki oleh generasi muda yaitu memajukan dan meningkatkan pembangunan. Generasi muda mampu berkarya dan berekspresi dengan bebas, tetapi masih dalam lingkup yang sewajarnya dan tidak menyalahi aturan. Pengembangan potensi tersebut dapat dimulai dari lingkungan keluarga, orang tua dapat mengembangkan potensi anak mereka sejak berusia balita, orang tua dapat mengarahkan apa dan kemana potensi yang dimiliki oleh anak mereka sehingga lahirlah generasi muda yang memiliki potensi sesuai minat masing-masing anak.
Generasi muda dapat mengembangkan potensi mereka melalui hobi atau kesenangan masing-masing, contohnya jika anak menyukai musik maka ia bisa mengembangkan potensinya dengan membuat sebuah band atau mengikuti kursus bermain musik sehingga potensi anak tersebut redup tanpa ada perkembangan.
Potensi generasi muda juga dapat membangun rasa bangga pada diri sendiri. Keluarga dan negara juga merasa bangga atas potensi yang dimiliki oleh anggota keluarga atau sebagai masyarakat. Tapi bagaimana jika generasi muda saat ini mengisi hari mereka dengan hanya menghabiskan uang orang tua dengan membeli barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan, Sex di luar nikah, penyalahgunaan obat narkotika tak dapat dihindari, mabuk-mabukan (minum-minuman keras), dan masih banyak lagi hal-hal lain yang buruk. Peran orang tua sangat dibutuhkan  disini agar dapat mengarahkan sejak dini kemana arah yang paling tepat dan baik untuk perkembangan anak mereka sehingga generasi muda dapat memiliki potensi yang sangat berguna bagi nusa dan bangsa.
Di negara-negara maju, salah satu di antaranya adalah Amerika Serikat, para mahasiswa sebagai bagian generasi muda, didorong, dirangsang dengan berbagai motivasi dan dipacu untuk maju dalam berlomba menciptakan suatu ide/gagasan yang harus diwujudkan dalam suatu bentuk barang, dengan berorientasi pada teknologi mereka sendiri.
2.       Pengertian Pendidikan dan Perguruan Tinggi
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Peran anggota keluarga yaitu pengajaran yang amat mendalam sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.
·                Pendidikan dasar
Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
·                Pendidikan menengah
Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar.
·                Pendidikan tinggi
Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi baik negeri maupu swasta. Perguruan tinggi adalah satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi. Peserta didik perguruan tinggi disebut mahasiswa, sedangkan tenaga pendidik perguruan tinggi disebut dosen.
Menurut jenisnya perguruan tinggi dibagi menjadi 2, yaitu:
1.             Perguruan tinggi negeri adalah perguruan tinggi yang pengelolaan dan regulasinya dilakukan oleh Negara.
2.             Perguruan tinggi swasta, adalah perguruan tinggi yang pengelolaan dan regulasinya dilakukan oleh swasta.

3.             Alasan untuk Berkesempatan Mengenyam Perguruan Tinggi
Pembicaraan tentang generasi muda/pemuda, khususnya yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi menjadi penting karena berbagai alasan, yaitu:
Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mereka memiliki pengetahuan yang lebih luas tentang masyarakatnya. Hal ini dikarenakan adanya kesempatan untuk terlibat di dalam pemikiran, pembicaraan serta penelitian tentang berbagai masalah yang ada di dalam masyarakat. Kesempatan ini tidak tidak dimiliki oleh generasi muda yang lain pada umumnya. Oleh karena itu, mahasiswa termasuk yang terkemuka di dalam memberikan perhatian terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat secara nasional.
Kedua, mahasiswa sebagai kelompok masyarakat yang paling lama mengenyam di bangku sekolah, maka mahasiswa mendapatkan proses sosialisasi terpanjang secara berencana dibandingkan dengan generasi muda lainnya yang tidak mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Melalui berbagai mata pelajaran seperti PMP, Sejarah, dan Antropologi maka berbagai masalah kenegaraan dan kemasyarakatan dapat diketahui.
Ketiga, mahasiswa yang berasal dari berbagai etnis dan suku bangsa dapat menyatu dalam bentuk terjadinya akulturasi sosial dan budaya. Hal ini akan memperkaya khasanah kebudayaannya , sehingga mampu melihat Indonesia secara keseluruhan.
Keempat, mahasiswa sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian dan prestise di dalam masyarakat, dengan sendirinya merupakan elite di kalangan generasi muda/pemuda, umumnya mempunyai latar belakang sosial, ekonomi, dan pendidikan lebih baik dari keseluruhan generasi muda lainnya. Mahasiswa pada umumnya mempunyai pandangan yang lebih luas dan jauh ke depan serta keterampilan berorganisasi yang lebih baik dibandingkan generasi muda yang usianya sebaya dengannya yang tidak mengenyam bangku pendidikan hingga perguruan tinggi.

Sumber:


ISD BAB III: KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN

Minggu, 12 Oktober 2014

Nama         : Winda Setianingsih
NPM          : 2C314267
Kelas          : 1TB03
Jurusan      : Teknik Arsitektur

BAB III
KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN

1.            Pertumbuhan dan Perkembangan Kebudayaan Indonesia
Pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Indonesia terdiri atas tiga zaman, yaitu:
a)   Zaman Batu Tua (Palaeolithikum)
Alat-alat batu pada zaman batu tua, baik bentuk ataupun permukaan peralatan masih kasar, misalnya kapak genggam Kapak genggam semacam itu kita kenal dari wilayah Eropa, Afrika, Asia Tengah, sampai Punsjab(India), tapi kapak genggam semacam ini tidak kita temukan di daerah Asia Tenggara.
Ciri-ciri zaman batu tua, yaitu :
1.     Masyarakatnya belum memiliki rasa estetika (disimpulkan dari kapak genggam yang bentuknya tidak beraturan & bertekstur kasar)
2.     Belum dapat bercocok tanam (karena peralatan yang dimiliki belum dapat digunakan untuk menggemburkan tanah).
3.     Memperoleh makanan dengan cara berburu (hewan) dan mengumpulkan makanan (buah-buahan & umbi-umbian).
4.     Hidup nomaden (jika sumber makanan yang ada di daerah tempat tinggal habis, maka masyarakatnya harus pindah ke tempat baru yang memiliki sumber makanan).
5.     Hidup dekat sumber air (mencukupi kebutuhan minum & karena di dekat sumber air ada banyak hewan & tumbuhan yang bisa dimakan).
6.     Hidup berkelompok (untuk melindungi diri dari serangan hewan buas).
7.     Sudah mengenal api (bedasarkan studi perbandingan dengan Zaman Palaeolithikum di China, dimana ditemukan fosil kayu yang ujungnya bekas terbakar di dalam sebuah gua).
8.     Belum mengenal seni

Berdasarkan penelitian para ahli prehistori, bangsa-bangsa Proto-Austronesia pembawa kebudayaan Neolithikum berupa kapak batu besar ataupun kecil bersegi-segi berasal dari Cina Selatan, menyebar ke arah selatan, ke hilir sungai-sungai besar sampai ke semenanjung Malaka Lalu menyebar ke Sumatera, Jawa. Kalimantan Barat, Nusa Tenggara, sampai ke Flores, dan Sulawesi, dan berlanjut ke Filipina.
b) Zaman Batu Tengah (Mesolithikum)
Terdapat dua kebudayaan yang merupakan patokan zaman ini, yaitu:
·         Kebudayaan Kjokkenmoddinger
Kjokkenmodinger, istilah dari bahasa Denmark, kjokken yang berarti dapur & moddinger yang berarti sampah (kjokkenmoddinger = sampah dapur). Dalam kaitannya dengan budaya manusia, kjokkenmoddinger merupakan timbunan kulit siput & kerang yang menggunung di sepanjang pantai Sumatra Timur antara Langsa di Aceh sampai Medan. Di antara timbunan kulit siput & kerang tersebut ditemukan juga perkakas sejenis kapak genggam yaitu kapak Sumatra/Pebble & batu pipisan.
·         Kebudayaan Abris Sous Roche
Abris sous roche, yang berarti gua-gua yang pernah dijadikan tempat tinggal, berupa gua-gua yang diduga pernah dihuni oleh manusia. Dugaan ini muncul dari perkakas seperti ujung panah, flakke, batu penggilingan, alat dari tulang & tanduk rusa; yang tertinggal di dalam gua.
Bedasarkan kebudayaan yang ditemukan, maka dapat disimpulkan ciri-ciri kehidupan pada zaman Mesolithikum antara lain:
a.    Sudah mengenal rasa estetika (dilihat dari peralatannya seperti kapak Sumatra, yang bentuknya sudah lebih beraturan dengan tekstur yang lebih halus dibandingkan kapak gengggam pada Zaman Paleolithikum)
b.    Masih belum dapat bercocok tanam (karena peralatan yang ada pada zaman itu masih belum bisa digunakan untuk menggemburkan tanah)
c.    Gundukan Kjokkenmoddinger yang dapat mencapai tinggi tujuh meter dengan diameter tiga puluh meter ini tentu terbentuk dalam waktu lama, sehingga disimpulkan bahwa manusia pada zaman itu mulai tingggal menetap (untuk sementara waktu, ketika makanan habis, maka harus berpindah tempat, seperti pada zaman Palaeolithikum) di tepi pantai.
d.   Peralatan yang ditemukan dari Abris Sous Roche memberi informasi bahwa manusia juga menjadikan gua sebagai tempat tinggal.

c)   Zaman Batu Muda (Neolithikum)
Manusia pada zaman batu muda telah mengenal dan memiliki kepandaian untuk mencairkan/melebur logam dari biji besi dan menuangkan ke dalam cetakan dan mendinginkannya. Oleh karena itulah mereka mampu membuat senjata untuk mempertahankan diri dan untuk berburu serta membuat alat-alat lain yang mereka perlukan.
Ciri-ciri zaman batu muda :
1.             Mulai menetap dan membuat rumah;
2.             Membentuk kelompok masyarakat desa;
3.             Bertani;
4.             Berternak dan memenuhi kebutuhan hidup;
5.             Menganut kepercayaan animisme dan dinamisme
6.             Pakaiannya terbuat dari kulit kayu.
Bangsa-bangsa Proto-Austronesia yang masuk dari Semenanjung Indo-China ke Indonesia itu membawa kebudayaan Dongson, dan menyebar di Indonesia. Materi dari kebudayaan Dongson berupa senjata-senjata tajam dan kapak berbentuk sepatu yang terbuat dari bahan perunggu.

2.            Kebudayaan Hindu, Budha dan Islam

a.Kebudayaan Hindu
Masuknya agama Hindu ke Indonesia diperkirakan terjadi pada awal tahun Masehi. Hal ini diketahui dengan adanya bukti tertulis atau peninggalan purbakala pada abad ke-4 Masehi dengan ditemukannya 7 buah "yupa" peninggalan kerajaan Kutai di Kalimantan. Dari 7 buah yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada saat itu yang menyatakan bahwa: "Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman". Keterangan lain yang menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja Dewa Siwa, dan tempat itu disebut dengan "Vaprakeswara". Masuknya ajaran Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang sangat besar, yaitu berakhirnya jaman prasejarah di Indonesia, perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan agama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Weda, dan juga munculnya kerajaan-kerajaan yang mengatur kehidupan agama pada suatu wilayah.
Selain di kerajaan Kutai (pulau Kalimantan), agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan ditemukannya 7 buah prasasti, yaitu prasasti Ciaruteun, Kebonkopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua prasasti-prasasti tersebut tertulis dalam bahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa. Dari prasasti-prasasti tersebut didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa "Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu". Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Purnawarman di kerajaan Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa.
Selanjutnya, agama Hindu juga berkembang di Jawa Tengah dengan terbukti adanya Prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu. Prasasti tersebut berbahasa Sansekerta yang memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti Tukmas ini menggunakan atribut Dewa Tri Murti, yaitu Trisula, Kendi, Cakra, Kapak dan Bunga Teratai Mekar, yang diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi. Pernyataan lain disebutkan juga dalam Prasasti Canggal, yang berbahasa Sansekerta dan memakai huduf Pallawa. Prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Saka (576 Masehi), dengan Candra Sengkala yang berbunyi: "Sruti indriya rasa". Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa sebagai Tri Murti. Adanya Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi, juga merupakan bukti adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah.
Sedangkan di Jawa Timur, perkembangan agama Hindu dibuktikan dengan adanya Prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Malang yang berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Weda, para Brahmana, para pendeta dan rakyatnya. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Dan Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang yang merupakan peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur. Pada tahun 929 hingga 947 Masehi, muncullah Mpu Sendok yang berasal dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa, yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sendok adalah Dharma Wangsa. Selanjutnya muncullah Airlangga yang memerintah Kerajaan Sumedang tahun 1019 hingga 1042 Masehi, yang merupakan penganut agama Hindu yang setia. Setelah dinasti Isana Wamsa di Jawa Timur muncul kerajaan Kediri pada tahun 1042 hingga 1222 Masehi, sebagai kerajaan yang mengemban agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak menghasilkan karya-karya sastra Hindu, seperti kitab-kitab Smaradahana, Bharatayudha, Lubdhaka, Wrtasancaya dan Kresnayana. Kemudian muncul kerajaan Singosari yang jaya pada tahun 1222 hingga 1292 Masehi. Pada jaman kerajaan ini berdiri Candi Kidal, Candi Jago dan Candi Singosari sebagai bukti peninggalan agama hindu. Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul Kerajaan Majapahit, sebagai kerajaan terbesar yang meliputi seluruh Nusantara. Masa keemasan Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan keagamaan Hindu saat itu. Hal ini terbukti dengan adanya Candi Penataran sebagai bangunan suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga dengan kemunculan buku Negarakertagama.

b.         Kebudayaan Budha
 Masuknya Agama Buddha pertama kali di Indonesia, belum jelas dan gelap, walaupun nama pulau Jawa sebagai “Labadiu” telah dikenal oleh Ptolemi, seorang ahli ilmu bumi di Iskandariah pada tahun 130 M. pada abad pertama masehi sudah dikenal “Javadwipa” yang meliputi Jawa dan Sumatera sekarang. “Suvarnadwipa” adalah nama untuk pulau Sumatra. Dapat disimpulkan bahwa sebelum abad kedua Masehi, sudah terdapat hubungan antara India dan kepulauan Nusantara.
Kedatangan Fa-Hien pada tahun 414 M ke pulau Jawa dalam perjalanannya pulang ke China, setelah ia berkunjung ke India selama 6 tahun telah membuka tabir kegelapan mengenai kehidupan beragama di pulau Jawa. Ia tinggal 5 bulan di pulau Jawa dan dalam catatannya mengatakan bahwa banyak terdapat penganut agama brahmana yang jauh berlainan dengan kehidupan di India, akan tetapi agama Buddha sedikit dan tidak tertarik untuk dicatat.
    Atas usaha Bhikkhu Gunawarman pada tahun 423 M, agama Buddha berkembang di Jawa. Gunawarman adalah putera Raja dari Khasmir (India), ia melepaskan kehidupan perumah tangga dan menjadi Bhikkhu dan belajar ke Sri Lanka dan ke She-Po (Jawa), dan berhasil mengembangkan agama Buddha di tanah Jawa.




Kerajaan-kerajaan Budha di Indonesia :

1.             Mataram
Piagam tertua kira-kira tahun 732, ditemukan di desa Canggal, Keresidenan Kedu. diterangkan dalam piagam itu bahwa di dekat desa Salam, sebelah Selatan Muntilan, didirikan sebuah tempat suci yang berisi lingga. Tempat suci yang berisi lingga (salah sebuah lambang Siwa) di dekat Salam itu dapat dianggap sebagai tanda mendirikan suatu kerajaan yang disebut Mataram, karena Raja ini (Sanjaya) di dalam piagam-piagam kemudian disebut “Rake Mataram”. Mataram mula-mula nama daerah kecil yang diperintah oleh Raja Sanjaya yang kemudian dijadikan nama kerajaan yang didirikan Sanjaya.
Pengganti Sanjaya adalah Pancapana, Rake Penangkaran adalah gelar yang lebih terkenal. Pancapana adalah penganut Buddha Mahayana, sedangkan Sanjaya adalah penganut Brahmana. Pada tahun 778 Pancapana mendirikan candi Kalasan untuk memuji Dewi Tara. lain-lain dari candi itu adalah candi Borobudur, Mendut, Sewu, Plaosan, Sari.
 Dinasti raja-raja Mataram disebut Sailendra. Bukti bahwa mereka adalah dari keturunan Syailendra terdapat dalam piagam yang berhubungan dengan candi Kalasan. harus diperhatikan bahwa kira-kira pada waktu itulah agama Buddha Mahayana sudah datang ke Indonesia  dan seterusnya berkembang berdampingan dengan agama Siwa yang telah datang lebih dulu. Pengganti – pengganti Pancapana adalah banyak memuji dan memuja Buddha dan Siwa.

2.        Sriwijaya
Di Sumatera terdapat sebuah kerajaan yang bernama Sriwijaya yang terletak dan berpusat di Palembang-Jambi pada abad ke 5 M. Kemudian meluaskan jajahannya sampai ke Bangka dan semanjung Malaya. Sebelum kerajaan Sriwijaya berkembang, terlebih dahulu adanya kerajaan Melayu yang terletak di Jambi sekarang. Akan tetapi kerajaan Sriwijaya lebih berkuasa, dan kerajaan Melayu pada saat itu tunduk pada kekuasaan Sriwijaya.
Pada abad ke 7, ketika kekuasaan Sriwijaya sedang dipuncaknya, Palembang tidak hanya menjadi pusat politik, melainkan menjadi pusat agama Buddha. Catatan yang dibuat I-Tsing ia berangkat dari Canton pada tahun 671, pergi ke Palembang dulu dan tinggal selama 6 bulan untuk belajar tata bahasa, setelah itu ia pergi ke Melayu dan tinggal selama 2 bulan. Setelah ia menuntut ilmu pelajaran di Perguruan Tinggi di Nalanda selama 10 tahun, ia kembali ke Sriwijaya, terjadi pada tahun 685. Setelah ia tinggal selama 4 tahun di Sriwijaya, ia kembali ke Kanton dan menjemput empat orang pembantu untuk membantu dalam menerjemahkan kitab-kitab agama Buddha di Palembang.

3.             Majapahit
Prof. Dr. Slamet Mulyana dalam “Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya” menyebutkan, bahwa pada zaman Majapahit agama menjiwai segenap lapangan kehidupan, termasuk kebudayaan. Semua cabang kebudayaan seperti seni bangunan, seni pahat, seni sastra dan seni panggung bernafaskan keagamaan. Gajah Mada mengutamakan negara dan kemakmuran rakyat daripada keagungan keagamaan.

4.             Islam
·         Islam di bawa oleh para Pedagang Gujarat (India)
Pendukungnya yaitu : Snouck Hourgonye ; W.F. Stutterheim ; Bernard H.M. Ulekke
Bukti :
1.     Di temukan makam nisan Sultan Malik Al-Saleh yang berangka tahun 1297.
2.    Muncul istilah jirat = paes = nisan = patok, yang berasal dari Gujarat.
3.    Berdasarkan berita Marcopolo di sebutkan pada saat singgah di Samudra Pasai, ia menemukan masyarakat sekitar sudah menganut agama Islam.
·         Islam di bawa oleh para Pedagang Persia (Iran)
Pendukungnya yaitu : Umar Amir Husein ; Husein Djayadiningrat
Bukti :
1.       Adanya Upacara Tabut di Minangkabau
2.      Penemuan makam Fatimah binti Maulana, di Leran, Gresik Jawa Timur.
3.       “Leran” jika di Indonesia nama sebuah kampung/desa, namun di Persia/Iran adalah nama suku bangsa.
·         Islam di bawa oleh para Pedagang Arab/Mesir
Dikemukakan oleh Hamka
Bukti:
1.       Terdapatnya kesamaan gelar H. Malik yang digunakan di Samudra Pasai.
2.       Terdapatnya kesamaan mahzab yaitu mahzab Syafii di gunakan di Samudra Pasai.

Saluran Islamisasi
1.      Perdagangan 
2.      Perkawinan
3.      Pendidikan 
4.      Da’wah
5.      Kesenian 
6.      Tasawuf, adalah Ajaran ketuhanan yang di campur dengan ilmu-ilmu magic dan hal-hal yang berbau mistis yang berfungsi untuk pengobatan, biasanya di sesuaikan dengan pola pikir yang berorientasi pada Hindu-Budha sehingga di sesuaikan dengan kondisi dan situasi lingkungan masyarakat sekitar.

Faktor Islam Cepat Berkembang
1.      Syarat masuk Islam sangat mudah yaitu hanya membaca 2 kalimat Syahadat.
2.      Islam menyebar ke Indonsia di sesuaikan tradisi pada saat itu.
3.      Islam tidak mengenal kasta/strata sosial.
4.      Penyebaran Islam dilakukan secara damai.
5.      Tata upacara peribadatan Islam sangat sederhana.
6.      Upacara dalam Islam pun sangat sederhana.

Perkembangan Budaya Islam Di Indonesia
Akulturasi
Contoh wujud Akulturasi Budaya Islam + Indonesia
-                 Bidang Bangunan
Contahnya Masjid
Cirinya: atap tumpang, pondasi agak tinggi,adanya parit/kolam, adanya serambi, bedug, kaligrafi, menara, gerbang
-                 Makam
Cirinya: cungkum (rumah makam), di tempat tinggi, nisan, hiasan kaligrafi.
-                 Seni Sastra
-                 Hikayat
Cerita/dongeng karya sastra melayu berbentuk prosa yang memuat peristiwa luar biasa yang tidak masuk akal sering bertitik tolak dari peristiwa sejarah.
Contoh: Amir Hamzah, Hikayat si Miskin.
-                 Babad
Cerita Sejarah yang lebih bersifat dongeng merupakaan rekaan pujangga keraton yang dianggap sebagai peristiwa sejarah.
Contoh: Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon.
-                 Suluk
Kitab yang mencerminkan masalah tasawuf yaitu jalan kearah kesempurnaan batin.
Contoh: Suluk Sukarsa, Suluk Wujil, dan Malang Sumbing.
-                 Primbon
Ramalan-ramalan jawa.
3.             Kebudayaan Barat
Unsur kebudayaan barat juga memberi warna terhadap corak lain dari kebudayaan dan kepribadian bangsa Indonesia adalah kebudayaan Barat. Masuknya budaya Barat ke Negara Republik Indonesia ketika kaum kolonialis atau penjajah masuk ke Indonesia, terutama bangsa Belanda. Penguasaan dan kekuasaan perusahaan dagang Belanda dan berlanjut dengan pemerintahan kolonialis Belanda, di kota-kota propinsi, kabupaten muncul bangunan-bangunan dengan bergaya arsitektur Barat. Dalam waktu yang sama, dikota-kota pusat pemarintahan, terutama di Jawa, Sulawesi Utara, dan Maluku berkembang dua lapisan sosial ; Lapisan sosial yang terdiri dari kaum buruh, dan kaum pegawai.
Sehubungan dengan itu penjelasan UUD’45 memberikan rumusan tentang kebudayaan memberikan rumusan tentang kebudayaaan bangsa Indonesia adalah: kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi rakyat Indonesia seluruhnya, termasuk kebudayaan lama dan asli yang ada sebagai puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Dalam penjelasan UUD 1945 ditujukan ke arah mana kebudayaan itu diarahkan, yaitu menuju kearah kemajuan budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan baru kebudayaan asing yang dapat mengembangkan kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia

Sumber :



Enjoy my world, guys
Diberdayakan oleh Blogger.