Mengenal Lebih Dalam Bangunan Kedai Seni Djakarte

Sabtu, 21 Juli 2018


Mengenal Lebih Dalam Bangunan Kedai Seni Djakarte

 


                Di postingan sebelumnya, saya sudah menjelaskan mengenai salah satu contoh bangunan cagar budaya yang akan dibahas yaitu Kedai Seni Djakarte yang terletak di Jakarta Barat, tepatnya di Kawasan Kota Tua. Kafe ini sebelumnya adalah bagian dari asuransi kompleks gedung ce yang disebut Batavia Zee en Brand Assurantie Mij. Bangunan ini dirancang dan dibangun pada awal abad ke-20 oleh arsitek PAJ Moojen. Fasad utama 3 lantai, yang menghadap Jalan Kali Besar dipengaruhi oleh gaya Neo-Klasik, sedangkan bagian belakang, menghadap Jalan Pintu Besar adalah struktur 2 lantai yang lebih sederhana yang khas dari bangunan pasangan bata Eropa di daerah tersebut. Lokasi Kedai Café Seni Djakarte saat ini pada mulanya merupakan bagian dari garasi dan bagian gudang dari kompleks Zee en Brand Assurantie Batavia Mij.

 
Dalam  perjalanannya, gedung asuransi ini pernah mengalami beberapa ganti kepemilikan dan alih fungsi bangunan. Pada tahun 1941, gedung ini pernah menjadi gedung Java Sea & Fire Insurance Co. Ltd. Plakatnya masih tertempel di dinding luar, di antara dua pintu besarnya. Sekitar tahun 1963 gedung ini diambil alih oleh perseorangan. Foto lawas memperlihatkan bahwa gedung tersebut berubah menjadi gedung Bar-Bar. Hal ini diketahui dari tulisan Bar di atas pintu besar yang berada di selatan, dan tulisan Bar yang satunya ditempatkan di atas pintu besar yang berada di utara. Pada tahun 1983 gedung ini selanjutnya dijadikan kantor untuk gudang distribusi alkohol ke apotek-apotek yang ada di Jakarta. Lalu, pada tahun 1990 gedung ini ditinggalkan dan dibiarkan kosong lagi. Sehingga, gedung ini hampir ambruk di mana atapnya sudah rontok. Pada tahun 1998 bagian dari gedung ini yang menghadap ke Kali Besar, kepemilikannya berpindah tangan ke Jasa Raharja. Sedangkan, bagian bangunan yang menghadap ke Museum Sejarah Jakarta pada tahun 2008 difungsikan untuk usaha tekstil.


Pada tahun 2013 gedung ini menjadi sebuah kafe setelah memperbaiki bagian atapnya yang rusak. Kafe ini diberi nama Kedai Seni Djakarte, dan dikelola oleh Susi Ratnawati. Di awal 2014 kembali dilakukan perbaikan karena ternyata saluran air rusak. Kemudian di tahun 2015, Kedai Seni Djakarte mendapat bantuan dari UNESCO. Tujuan utama dalam pemugaran ini adalah perbaikan kuda-kuda atap yang lapuk untuk menjamin kekokohan dan perpanjangan umur bangunan. Selain itu juga dalam upaya untuk memperbaiki tampak bangunan agar utuh dan sesuai dengan kondisi aslinya. Pekerjaan ini adalah proyek percontohan pemugaran bangunan cagar budaya oleh UNESCO Jakarta, yang merupakan bagian dari program revitalisasi Kota Tua Jakarta. Fasad bangunan ini relatif sederhana dengan desain bata sederhana dengan jendela kayu dan daun jendela. Tidak memiliki hiasan dekoratif kecuali lampu utama jendela kaca di atas kanopi kayu dari dua pintu utama.


Area lantai dasar dari café Djakarte saat ini adalah sekitar 160 m2 dan luas lantai yang sama di lantai atas. Tidak ada ruang luar yang dapat diakses sebagai bagian dari kafe ini. Sebagian dari jalan digunakan sebagai area makan ruang luar bagi pengunjung. Ada dua ruang utama di lantai dasar masing-masing sekitar 60 m2. Ruang-ruang itu antara lain area makan dan dapur kafe, serta terdapat pula toilet dan ruang penyimpanan.
Di lantai pertama adalah dua kamar makan berukuran sama yang menghadap ke jalan. Ini ruang juga digunakan sebagai galeri seni kecil. Bangunan ini tidak menggunakan AC, namun terdapat sebuah kipas ekstraksi exhaust yang besar. Tangga berlapis marmer mengarah dari lantai dasar ke lantai pertama. Pegangan tubular dari perunggu hilang dan langkan besi tempa yang terbuka adalah bahaya. Pegangan kayu bulat baru-baru ini dipasang sebagai pegangan pengganti yang lebih murah dan untuk alasan keamanan.


Ada dua toilet di bangunan ini, yaitu lantai dasar di bawah tangga dan lantai 1. Serta terdapat pula mushola di area lantai satu. Bangunan ini tidak memiliki teras, namun gedung café Djakarte memiliki jendela agar cahaya dapat masuk ke dalam ruangan.


Nama kafe ini memang terdengar agak unik. Ide membuat kedai dan galeri pun hadir setelah pemugaran selesai. Pada awalnya, galeri menjadi ide pertama karena suami dari pengelola kafe ini adalah seorang seniman. Tapi karena melihat pasar, akhirnya menghidupkan terlebih dahulu sisi kedainya.  Jadi, penamaan kedai seni ini sesungguhnya lahir dari ide untuk membuat kedai dan toko seni. Namun, sekarang ini rencana tersebut seiring waktu sudah mulai mendekati kenyataannya. Lantai 1 digunakan sebagai kafe yang menyediakan berbagai aneka masakan dan minuman, dan lantai 2 pengunjung bisa melihat berbagai lukisan hasil karya pemilik kedai ini, yang tak lain adalah suami dari pengelola kedai seni ini.
 







Sumber:




Enjoy my world, guys
Diberdayakan oleh Blogger.